Mangrove Bisa Diperjualbelikan, Menko Luhut: Tambah Pendapatan Masyarakat

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan menargetkan rehabilitasi mangrove di Indonesia per tahunnya seluas 150 ribu hektare. Program ini merupakan yang terbesar di dunia.

Hal ini disampaikannya dalam acara penanaman mangrove di Desa Tanjung Pasir, Tangerang Banten pada Rabu 3 Maret 2021 kemarin.

"Simbolis penanaman mangrove ini menandakan bahwa mulai hari ini kita semua harus bergerak cepat untuk mengejar target rehabilitasi mangrove tahun ini seluas 150 ribu hektare," ujar dia dalam keterangan tertulisnya, Kamis (4/2/2021).

Berdasarkan data, luas hutan mangrove Indonesia mencapai 3,31 juta hektar dan merupakan 20% dari luas mangrove dunia. Namun dari jumlah tersebut, teridentifikasi 600.000 hektare di antaranya kritis.

Menko Luhut menjelaskan bahwa mangrove memberikan banyak manfaat bagi masyarakat Indonesia, terutama melindungi dari dampak perubahan iklim. Mangrove dapat menahan ombak besar karena angin kencang dan tsunami.

"Mangrove memiliki potensi penyimpanan karbon yang besar dan dapat diperjualbelikan. Kawasan Mangrove juga dapat dimanfaatkan melalui pengembangan ekominawisata. Produk mangrove pun dapat diolah untuk dikonsumsi ataupun dijual sehingga dapat menambah pendapatan masyarakat," ungkap dia.

Kelebihan mangrove lainnya yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia adalah kemampuannya untuk menyerap dan menyimpan karbon 4 kali lebih besar dari hutan tropis lainnya.

"Hutan di Indonesia termasuk mangrove mampu menyimpan karbon sekitar 75% dari rata-rata simpanan karbon dunia, dan itu bisa kita perjualbelikan untuk meningkatkan pendapatan negara, asalkan mangrove ini dijaga dengan baik," tandas dia.

Di sisi lain, KKP juga mendukung penuh program Rehabilitasi Mangrove Nasional tahun 2021 yang dikomandoi oleh Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves). Program ini sebagai upaya menjaga kelestarian lingkungan pesisir sekaligus mendorong peningkatan ekonomi masyarakat.

Program rehabilitasi lingkungan tersebut dimulai hari ini, yang ditandai dengan penanaman mangrove di Desa Tanjung Pasir, Tangerang Banten. Area penanaman merupakan kawasan hutan lindung kelolaan Perum Perhutani yang luasnya sekitar 168 hektare.

"Sesuai arahan Bapak Menko (Marves), soal mangrove ini, kita sebutnya mangrovisasi di wilayah pesisir. (Tujuannya) agar produksi mangrove meningkat dan lingkungan kita jadi lebih hebat. Intinya KKP siap bekerja sama dan mendukung," ujar Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono.

Trenggono berharap program ini terus bergulir sehingga daerah pesisir yang terehabilitasi kawasan mangrove-nya semakin banyak. Dia optimistis ini terealisasi sebab banyak pihak yang terlibat baik dari pusat maupun daerah, dan semuanya mendukung penuh program rehabilitasi ini.

Menurutnya, keberadaan hutan mangrove tidak hanya baik bagi lingkungan pesisir dan melindungi permukiman dari abrasi maupun gelombang tinggi, juga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat. Di sejumlah daerah, kawasan mangrove dimanfaatkan sebagai lokasi wisata. Selain itu, proses penanamannya turut melibatkan masyarakat setempat sehingga program rehabilitas mangrove ini menjadi sumber penghasilan.

"Saya pikir ini adalah sesuatu yang harus dikembangkan. Tidak hanya di Tangerang, tapi juga wilayah Indonesia lainnya. Kami bersama-sama akan berupaya dengan beragam cara (untuk terus mengembangkan program ini)," ungkap dia.[okezone.com]

Belum ada Komentar untuk "Mangrove Bisa Diperjualbelikan, Menko Luhut: Tambah Pendapatan Masyarakat"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel